“Quiet Quitting” Ancam Loyalitas Karyawan, Fenomena Baru yang Bikin HRD Pusing
“Quiet Quitting” Ancam Loyalitas Karyawan, Fenomena Baru yang Bikin HRD Pusing
“Quiet Quitting” menjadi fenomena yang baru-baru ini menjadi isu hangat di dunia kerja. Istilah ini merujuk pada karyawan yang tidak secara resmi mengundurkan diri, tetapi secara diam-diam mengurangi usaha dan komitmen mereka di tempat kerja. Fenomena ini tentu saja menjadi ancaman bagi para HRD, karena dapat menurunkan loyalitas karyawan dan akhirnya menghambat kinerja perusahaan.
Apa itu “Quiet Quitting”?
Berbeda dengan “resign” di mana karyawan secara resmi mengundurkan diri, “Quiet Quitting” terjadi ketika karyawan tidak lagi menunjukkan antusiasme dan engagement dalam pekerjaan mereka. Mereka tetap bekerja, tetapi tidak lagi berusaha untuk melampaui ekspektasi atau memberikan kontribusi ekstra.
Selain itu, Zaid Khan yang merupakan seorang TikToker telah mempopulerkan istilah “Quiet Quitting” ini pada bulan Juli 2022. Dimana, fenomena “Quiet Quitting” merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian lebih bagi setiap perusahaan.
Kendati demikian, penting untuk diingat bahwa quiet quitting bukanlah melawan, hal ini karena karyawan yang melakukan quiet quitting tidak berniat untuk melawan perusahaan atau atasan mereka.
Alasan Karyawan Melakukan “Quiet Quitting”
Ada berbagai alasan mengapa karyawan melakukan quiet quitting, antara lain:
- Burnout: Karyawan merasa lelah dan stres karena beban kerja yang berlebihan.
- Kurang apresiasi: Karyawan merasa tidak dihargai atas kinerja dan kontribusi mereka.
- Ketidakjelasan jenjang karir: Karyawan tidak melihat peluang untuk berkembang dalam karir mereka.
- Ketidakcocokan budaya kerja: Karyawan merasa tidak cocok dengan budaya kerja di perusahaan.
- Ketidakseimbangan work-life balance: Karyawan merasa kehidupan pribadi mereka tidak seimbang dengan pekerjaan.
Tanda-tanda “Quiet Quitting”
- Pertama, turunnya kinerja: Karyawan tidak lagi mencapai target atau menyelesaikan tugas dengan standar yang sama seperti sebelumnya.
- Selanjutnya, kurang motivasi: Karyawan tidak menunjukkan antusiasme atau inisiatif dalam pekerjaan mereka.
- Kemudian, sering absen atau terlambat: Karyawan sering kali tidak hadir atau terlambat tanpa alasan yang jelas.
- Selain itu, menghindari komunikasi: Karyawan menghindari komunikasi dengan atasan atau rekan kerja.
- Lalu, menolak tanggung jawab: Karyawan menolak tugas tambahan atau tanggung jawab baru.
Dampak “Quiet Quitting”
Fenomena “Quiet Quitting” dapat membawa dampak negatif bagi perusahaan, antara lain:
1. Turunnya produktivitas
Karyawan yang tidak lagi mendapat motivasi akan menghasilkan lebih sedikit output dan menurunkan produktivitas tim. Motivasi merupakan faktor penting yang mendorong karyawan untuk bekerja dengan giat dan mencapai target. Ketika karyawan mendapat motivasi, mereka akan lebih bersemangat, kreatif, dan fokus dalam menyelesaikan tugasnya. Hal ini akan menghasilkan output yang lebih banyak dan berkualitas, sehingga meningkatkan produktivitas tim secara keseluruhan.
Sebaliknya, karyawan yang tidak lagi mendapat motivasi akan menunjukkan kinerja yang menurun. Mereka mungkin:
- Menunda pekerjaan: Karyawan yang idak lagi mendapat motivasi akan cenderung menunda pekerjaan dan menyelesaikannya di akhir deadline.
- Melakukan pekerjaan dengan asal-asalan: Karyawan yang idak lagi mendapat motivasi tidak akan berusaha untuk menghasilkan pekerjaan yang terbaik.
- Sering absen atau terlambat: Karyawan yang tidak lagi mendapat motivasi mungkin akan sering absen atau terlambat tanpa alasan yang jelas.
- Menghindari tanggung jawab: Karyawan yang idak lagi mendapat motivasi akan menghindari tugas tambahan atau tanggung jawab baru.
Hal ini tentu saja akan berdampak pada turunnya output, turunnya kualitas, dan turunnya moral tim. Jadi, penting bagi perusahaan untuk memahami faktor-faktor yang dapat menurunkan motivasi karyawan dan menerapkan solusi yang tepat untuk meningkatkannya. Dengan karyawan yang mendapat motivasi, perusahaan dapat mencapai target dan meningkatkan kinerjanya secara keseluruhan.
2. Meningkatnya turnover
Kepuasan kerja adalah perasaan positif karyawan terhadap pekerjaannya. Karyawan yang puas dengan pekerjaannya akan lebih loyal dan berkomitmen terhadap perusahaan. Mereka akan lebih kecil kemungkinannya untuk mencari pekerjaan baru.
Sebaliknya, karyawan yang tidak puas dengan pekerjaannya akan lebih mungkin untuk mencari pekerjaan baru. Hal ini akan meningkatkan turnover karyawan. Turnover yang tinggi dapat membawa dampak negatif bagi perusahaan, antara lain:
- Pertama, biaya: Perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk merekrut dan melatih karyawan baru.
- Kedua, penurunan produktivitas: Karyawan baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan pekerjaan dan mencapai tingkat produktivitas yang optimal.
- Ketiga, penurunan moral tim: Kepergian karyawan yang baik dapat menurunkan moral tim dan menciptakan budaya kerja yang negatif.
Baca juga: Penyebab dan Dampak Turnover Karyawan Tinggi
3. Kerusakan budaya kerja
Budaya kerja adalah nilai-nilai, keyakinan, dan norma yang harus dianut untuk setiap perusahaan. Budaya kerja yang positif akan mendorong karyawan untuk bekerja dengan giat, saling membantu, dan mencapai tujuan bersama.
Sementara, engagement adalah tingkat keterlibatan dan antusiasme karyawan terhadap pekerjaannya. Karyawan yang engaged akan merasa terhubung dengan perusahaan dan memiliki komitmen untuk mencapai tujuan bersama.
Namun, sikap yang apatis dan kurangnya engagement dapat menciptakan budaya kerja yang negatif dan menurunkan moral tim.
Hal tersebut terjadi karena berbagai faktor seperti:
- Karyawan yang merasa lelah dan stres karena beban kerja yang berlebihan akan kehilangan antusiasme mereka terhadap pekerjaan.
- Karyawan yang merasa tidak dihargai atas kinerja dan kontribusi mereka akan kehilangan motivasi dan engagement mereka.
- Karyawan yang tidak melihat peluang untuk berkembang dalam karir mereka akan kehilangan rasa loyalitas dan engagement mereka.
- Karyawan yang merasa tidak cocok dengan budaya kerja di perusahaan akan kehilangan rasa nyaman dan engagement mereka.
- Karyawan yang merasa kehidupan pribadi mereka tidak seimbang karena pekerjaan akan kehilangan fokus dan engagement mereka.
Tantangan bagi HRD
Menghadapi fenomena “quiet quitting”, HRD memiliki beberapa tantangan, antara lain:
1. Mengidentifikasi karyawan yang mengalami “quiet quitting”
Tidak semua karyawan yang menunjukkan tanda-tanda di atas mengalami “quiet quitting”. HRD perlu melakukan investigasi untuk memahami akar permasalahannya.
2. Memahami alasan di balik “quiet quitting”
Ada berbagai alasan mengapa karyawan melakukan “quiet quitting”, seperti burnout, kurangnya apresiasi, atau adanya jenjang karir yang ambigu dan tidak jelas. HRD perlu memahami alasan di balik fenomena ini untuk dapat mencari solusi yang tepat.
3. Menemukan solusi yang efektif
Tidak ada solusi satu ukuran untuk semua untuk mengatasi “quiet quitting”. HRD perlu merancang solusi yang sesuai dengan akar permasalahan dan kebutuhan karyawan.
Solusi untuk Mengatasi “Quiet Quitting”:
Berikut beberapa solusi yang dapat dilakukan HRD untuk mengatasi fenomena “quiet quitting”:
1. Memberikan apresiasi
Memberikan apresiasi atas kinerja dan kontribusi karyawan dapat meningkatkan rasa dihargai dan memotivasi mereka.
2. Menciptakan budaya kerja yang positif
HRD perlu menciptakan budaya kerja yang positif dan suportif di mana karyawan merasa dirinya berharga dan berkontribusi, sehingga hal tersebut dapat meningkatkan engagement mereka.
3. Memberikan kesempatan untuk mengembangkan karir
Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan karir mereka dapat meningkatkan rasa loyalitas dan komitmen mereka terhadap perusahaan. Selain itu juga dapat memotivasi mereka untuk terus belajar dan berkembang.
4. Menjaga keseimbangan work-life balance
Membantu karyawan untuk mencapai keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan dapat meningkatkan engagement mereka dan mengurangi stres.
5. Meningkatkan komunikasi
Membangun komunikasi yang aktif dan transparan dengan karyawan dapat meningkatkan rasa percaya dan engagement mereka. Selain itu, hal tersebut perlu dilakukan oleh HRD untuk memahami kebutuhan dan concerns mereka.
Sintesa Resourcing sebagai perusahaan konsultan HR yang telah membantu banyak perusahaan untuk menerapkan budaya kerja yang positif dan efektif. Budaya kerja yang dikelola dengat baik dapat memberikan motivasi dan rasa nyaman bagi karyawannya. Kami dapat membantu perusahaan Anda juga.
Untuk profiling karyawan #LebihKomprehensif Konsultasi Gratis dengan hubungi kami via WhatsApp official disini.